Senin, 30 Juli 2012

Eko Yuli, Medali Kedua Anak Gembala

Eko Yuli, Medali Kedua Anak Gembala

Selasa, 31 Juli 2012 | 12:12 WIB

Dibaca:

Yuri Cortez/AFP Eko Yuli Irawan

LONDON, Kompas.com - Bagi atlet angkat besi Indonesia, Eko Yuli Irawan, tampil di Olimpiade seperti suatu keharusan untuk meraih medali.
    
Tidak banyak atlet yang dua kali berturut-turut tampil di Olimpiade dan meraih medali di kedua kesempatan itu, dan lifter berusia 23 tahun itu adalah salah satunya.
    
Pada Olimpiade beijing 2008, ia menyumbang medali perunggu, dan kali ini di London, pria kelahiran 24 Juli 1989 itu mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia, juga medali perunggu.
    
"Ini prestasi terbaik yang bisa saya peroleh, mungkin memang rejekinya masih perunggu," ujar Eko yang ditemui usai pertandingan di Excel London.
    
Kendati tampil dengan tulang kering dibebat akibat cedera menjelang SEA Games setahun lalu, Eko tetap tampil percaya diri di hadapan juri dan penonton yang memenuhi arena pertandingan.
    
Wajahnya sempat tampak menegang saat menanti atlet China Zhang Jie melaku kan angkatan terakhirnyan 178kg, namun setelah Zhang gagal, ia langsung berpelukan dengan para pelatihnya.  "Saya bersyukur masih diberi kesempatan, kalau dia berhasil saya tidak bisa dapat medali," katanya.
    
Perjuangan panjang
Eko yang semasa kecilnya adalah penggembala kambing di kampung halamannya, Lampung, percaya bahwa keberhasilan apapun membutuhkan perjuangan.
    
Ia mengenang bagaimana ia mulai menekuni cabang olahraga yang membesarkan namanya itu, saat masih berusia 11 tahun. "Dari tiga orang yang mengawali latihan sama-sama, yang dua menyerah tidak melanjutkan latihan," kata Eko yang tertarik dengan angkat besi karena sering menyaksikan latihan.
    
Eko yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya penarik becak dan ibu penjaja sayur, mengatakan awalnya menekuni angkat besi karena diajak ikut berlatih.
    
Meski hanya diajak, ia berusaha serius menekuni bidang yang sudah dipilihnya menjadi jalan hidup. "Untuk meraih prestasi harus melalui perjuangan panjang dan pengorbanan. Saya kehilangan masa muda saya untuk berlatih, mengorbankan sekolah," katanya.

"Setiap Olimpiade berat. Empat tahun lalu, sebulan sebelum Olimpiade saya cedera hamstring, beruntung masih bisa mempersembahkan medali. Tahun ini, saya juga masih cedera pada tulang kering kaki kanan saya, Alhamdulillah masih bisa tampil," katanya.
    
Eko mengaku selalu memasang target dalam hidupnya. "Buatlah target setinggi mungkin," kata lifter yang sekarang membela provinsi Kalimantan Timur itu.
    
Suami Masitah yang sedang menanti kelahiran anak pertama mereka itu mengatakan, dalam latihan dan bertanding pun ia selalu memasang target lebih tinggi dan berusaha mencapainya. "Saya mengawali karir dari kelas 35kg, dan selalu memasang target. Setiap tahun hasil angkatannya harus naik 5kg," katanya.
    
"Kalau mau berprestasi, jangan setengah-setengah, kalau cuma main-main, habis waktu masa muda kita," tambah peraih emas SEA Games 2007 dan perak kejuaraan dunia 2009 dan perunggu 2011 itu.
    
Ditanya akan dipersembahkan untuk siapa medali yang diraih, Eko dengan tegas mengatakan untuk keluarganya. "Ini juga hadiah untuk anak saya yang diperkirakan akan lahir dua minggu mendatang. Juga hadiah ulangtahun saya," kata pria kelahiran Lampung, 24 Juli 1989 itu.

"Ini prestasi terbaik yang bisa saya peroleh, mungkin memang rejekinya masih perunggu,

Editor :

A. Tjahjo Sasongko

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar