Rabu, 01 Agustus 2012

China Marah atas Tuduhan Penggunaan Doping

AFP/CHRISTOPHE SIMON Perenang putri China, Ye Shiwen, merayakan kesuksesannya menyabet medali emas nomor gaya ganti 400 meter di Olimpiade London 2012, Sabtu (28/7/2012). Shiwen juga pecahkan rekor dunia.

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China marah atas tuduhan penggunaan doping yang menimpa perenang bintang terbaru mereka, Ye Shiwen, yang telah memenangkan dua medali emas di Olimpiade London.

Tuduhan ini muncul setelah Ye yang berusia 16 tahun memenangkan perlombaan nomor 400 meter individual medley, dan nomor 200 m IM. Pada perlombaan hari Sabtu (28/7/2012) yang lalu, Ye bahkan menyelesaikan putaran terakhirnya dengan catatan waktu 28,93 detik. Ia mencetak waktu yang lebih cepat dari Ryan Lochte.

Pada Rabu (1/8/2012) ini, Global Times memberikan serangan balasan. "Negara-negara Barat masih menilai bahwa China memiliki mentalitas kuno, dan berpikiran picik menanggapi kemajuan yang dialami oleh China," menurut editorial media cetak tersebut. Serangan balasan ini juga diikuti oleh lembaga penyiaran nasional CCTV yang mendukung Ye pada siaran berita tengah harinya.

Ayah Ye, Ye Qinsong mengatakan kepada media China bahwa media Barat "selalu arogan". Pihak penyelenggara Olimpiade di London juga membela perenang muda China ini dengan mengatakan bahwa Ye telah melewati serangkaian tes anti-doping dan telah lulus tes.

Untuk beberapa dekade, Beijing telah mendapatkan dukungan publik dengan peraihan medali emas Olimpiade yang dimenangkan oleh atlet-atlet yang dilatih dengan menggunakan sistem olahraga Soviet yang didukung oleh pemerintah. Pencapaian dari olahraga atletik biasanya digunakan untuk menginspirasi kebanggaan dan patriotisme nasional, dan menangkis kritik atas Partai Komunis yang tengah berkuasa.

Di media China, medali Olimpiade diurutkan berdasarkan jumlah medali emas yang diperoleh oleh sebuah negara. Setelah memenangkan 51 medali emas di Olimpiade Beijing empat tahun lalu, saat ini China telah mengumpulkan 13 medali emas di London, dengan keseluruhan medali berjumlah 23.

Bagi banyak penduduk China, emas adalah lambang kekuatan negara, dan pemenang medali emas diberikan penghargaan jauh lebih banyak ketimbang peraih perak dan perunggu. Terkadang, meraih medali lain selain medali emas adalah hal yang buruk bagi atlet China. Air mata setelah mendapatkan medali perak, seperti yang didapatkan oleh Wu Jingbiao minggu ini, adalah air mata kesedihan.

"Saya telah membuat negara saya kecewa; saya mengecewakan tim angkat besi China; saya mengecewakan semua orang yang telah peduli terhadap saya. Saya meminta maaf," kata Wu sambil menangis karena berada di posisi kedua setelah Korea Utara.

Di kasus yang lain, harapan peraih medali pada cabang olahraga angkat besi di nomor 53kg, Zhou Jun, diserang oleh media setelah ia tereliminasi tanpa satu pun angkatan yang sukses. Sebuah surat kabar China menyebutnya sebagai "kekalahan yang paling memalukan" di sejarah angkat besi putri China.

Selain dugaan penggunaan doping, China juga tengah terlibat dalam kontroversi lain di London. Tim ganda putri badminton China kemungkinan besar akan menghadapi hukuman disipliner menyangkut aksi mereka yang berusaha mengalah di Olimpiade agar terhindar dari perlawanan dengan rekan senegaranya. Juara dunia ganda putri Wang Xiaoli/Yu Yang kalah dari lawan asal Korea Selatan Jung Kyun-eun/Kim Ha-na agar terhindar dari laga melawan Zhao Yunlei/Tian Qing di perempat final.

Editor :

Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar