Sabtu, 04 Agustus 2012

Demi Cita-cita, Liliyana Sudah Merantau Sejak 12 Tahun

PBSI Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.

LONDON, Kompas.com - Makna kata-kata bijak "Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah hidup diluncurkan" menjadi inspirasi Auw Jin Chen, ketika melepas Liliyana Natsir merantau sendirian ke Jakarta. Ibu berusia 55 tahun ini tak segan mengizinkan putri bungsunya tersebut meraih cita-citanya menjadi seorang atlet bulu tangkis.

Saat memutuskan untuk mengadu nasib di Jakarta, Liliyana baru berusia 12 tahun. Gadis manis ini ingin mendapatkan pelatihan bulu tangkis yang lebih baik.

Sekarang terserah dia, mau berhenti bermain, pensiun dari bulu tangkis juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin dia menikmati pertandingan karena prestasinya sudah cukup membanggakan.

-- Auw Jin Chen

Tentu saja, keputusan Jin Chen ini sangat berisiko, mengingat Liliyana belum bisa mandiri dan masih sangat membutuhkan perhatian orangtua. Tetapi, prinsip membebaskan anak menentukan sendiri jalan hidup sesuai dengan keinginan mereka adalah kewajiban orangtua, membuat dia rela melakukannya.

"Sejak awal saya tawarkan, 'kamu mau jadi apa, kalau mau sekolah tinggal sama mama-papa di Manado, kalau mau jadi atlet, di Jakarta'," kata ibunda pebulu tangkis nasional Liliyana Natsir itu.

Karena waktu itu masih sangat muda, 12 tahun, hampir setiap hari Liliyana, peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008, menangis karena ingin pulang. Tetapi kekuatan yang selalu diberikan sang ibu, membuat Liliyana bertahan.

"Saya katakan padanya, 'ini kan pilihan adek sendiri untuk menjadi atlet'," ujar Jin Chen berusaha menghibur putri bungsu yang sebelumnya hampir tidak pernah berpisah dengannya.

"Kemana pun orangtuanya pergi dia ikut, tidur pun dengan saya," katanya.

Saat ini, setelah 15 tahun Liliyana hidup sendiri jauh dari keluarganya, semua pengorbanan itu berbuah manis. Wanita kelahiran Manado 9 September 1985 tersebut telah meraih prestasi yang diimpikan semua atlet.

Pernah menempati peringkat satu dunia, meraih gelar juara dunia bahkan sampai dua kali (2005 dan 2007), juara All England, dan menyabet medali di Olimpiade, semua pernah dirasakannya.

Semua keputusan terserah Liliyana

Lalu, apa yang diharapkan Jin Chen, perempuan kelahiran 13 Juli 1957, setelah anaknya meraih sukses?

"Sekarang terserah dia, mau berhenti bermain, pensiun dari bulu tangkis juga tidak apa-apa. Saya hanya ingin dia menikmatinya," kata Jin Chen yang diundang ke London untuk menyaksikan putrinya bertanding di Olimpiade keduanya.

"Saya hanya ingin dia enjoy, menikmati pertandingan karena prestasinya sudah cukup membanggakan," katanya.

Namun ia menyebutkan, anak keduanya itu mengatakan, selama tetap dibutuhkan, ia masih ingin membela negaranya melalui olahraga.

Soal kehidupan pribadi, Jin Chen dan suaminya Beno Natsir tidak pernah ikut campur. Soal jodoh, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Liliyana.

Menurutnya, Liliyana belum berpikir untuk mencari pasangan hidup, apalagi menikah. "Belum kepikiran ke sana. Dia bilang, dia baru akan pacaran kalau sudah pensiun. Takut mengganggu latihan," begitu kata ibu dua putri itu menirukan kata-kata Liliyana.

Ketika bersama pasangannya, Tontowi Ahmad, gagal mempersembahkan medali bagi Merah Putih di London, Liliyana bilang belum memikirkan Olimpiade Rio 2016. Target terdekatnya adalah Kejuaraan Dunia tahun depan.

Editor :

Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar