Kamis, 02 Agustus 2012

Kayla Harrison, Korban Kekerasan Seksual yang Incar Emas

ONLYGAME Pejudo Amerika Serikat, Kayla Harrison.

LONDON, KOMPAS.com - Kayla Harrison pernah berpikir untuk bunuh diri. Namun, ia justru bangkit dan memaparkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh pelatih judonya. Di Olimpiade London kali ini, Harrison incar medali emas.

Ketika diminta untuk melihat kembali ke masa lalu dan melihat dirinya sendiri sebagai gadis kecil yang pernah mengalami penyiksaan, ia mengatakan demikian.

"Saya merasa sangat sedih melihat gadis itu. Saya masih dapat melihatnya menangis dan tidak mengetahui bagaimana caranya melepaskan diri. Namun saya senang karena saya tahu ia memiliki seberanian untuk mengatakan, 'Saya tidak akan menjadi korban dari kekerasan seksual.' Sekarang, gadis itu sudah bertunangan, tinggal di sebuah kota pantai yang indah, dan ia akan mendapatkan kejayaan di ajang Olimpiade."

Ketika Harrison mengucapkan kata "Olimpiade", senyumnya kemudian tampak lagi. Ini adalah ciri khasnya. Dia adalah atlet judo yang tengah berjuang mendapatkan medali emas judo pertama untuk Tim Amerika Serikat. Perjuangannya ini tidak lebih berat dari penderitaan yang pernah ia alami ketika ia berada di tangan pelatih judonya saat remaja.

Harrison menderita dalam kesunyian selama tiga tahun yang menyakitkan. Ia meninggalkan pikirannya untuk bunuh diri dan mengumpulkan keberaniannya untuk membuka kenyataan mengenai pelatihnya dan menghadapinya di pengadilan.

Daniel Doyle mengakui kesalahannya dan telah dijatuhi hukuman selama 10 tahun dalam penjara. Namun hukuman untuk Harrison bahkan lebih berat dan tersembunyi; ia harus membangun kembali hidupnya yang telah hancur, melawan hal "tabu" menjadi seorang korban dan belajar untuk mencintai dan mempercayai orang lain.

Harrison kini berada di London dan siap untuk berjuang mendapatkan emas di kelas 78 kg. Ini bukan hanya kemenangan baginya, namun juga untuk Pedros, tim pelatih ayah dan anak yang menurut Harrison telah menyelamatkan hidupnya.

"Saya benar-benar tidak memiliki keraguan di dalam pikiran saya bahwa saya adalah atlet terkuat di kelas berat saya dan salah satu dari kompetitor yang memiliki mental terkuat di judo. Saya tidak memiliki rasa takut," katanya.

Apa yang diungkapkan oleh Harrison tidak berlebihan. Empat bulan yang lalu, ia kembali ke rumah dari perjalanan pesawat dari Jepang. Lututnya membengkak setelah sebagian ligamen kolateral medialnya robek dalam latihan. Ia berandai-andai apakah ini adalah akhir dari mimpi Olimpiadenya, namun kekuatan mentalnya membuatnya terus bertahan.

"Apakah saya berharap apa yang terjadi pada saya akan terjadi juga pada musuh terbesar saya? Tidak. Namun, hal itu membuat saya semakin kuat, menjadi atlet yang lebih percaya diri dan saya tahu bahwa tidak ada yang akan lebih berat dari hal tersebut."

Olimpiade membuat Harrison tetap bertahan. Jika ia mendapatkan medali emas di London, artinya genap sudah ambisi seumur hidupnya. Setelah ini, ia akan kembali ke Ohio dan melanjutkan pelatihannya sebagai seorang pemadam kebakaran.

Namun, walaupun ia telah melanjutkan hidupnya, Harrison akan memastikan bahwa cerita yang ia alami tidak terlupakan. Sebab, yang lebih penting baginya adalah menolong anak-anak muda yang merasa terjebak tanpa harapan di dalam keadaan yang sama dengannya di masa lalu untuk mengetahui bahwa ada jalan keluar.

"Saya harap, dengan cerita saya, masa lalu saya dapat membantu masa depan orang lain," katanya. "Gadis kecil atau anak laki-laki kecil, saya ingin mereka tahu bahwa tidak apa-apa keluar dan berbicara mengani hal ini dan mencari pertolongan."

"Saya memiliki banyak orang yang berusia lebih tua mendatangi saya dan mengatakan, 'Saya membaca ceritamu dan saya mengharapkan saya telah melakukan sesuatu juga.' Anda melihat ke wajah mereka dan Anda dapat melihat penyesalan mereka, bagaimana hal ini dapat mengubah hidup dan membuatmu merasa sedih untuk mereka. Bagaimana pun ini telah menyentil saya, bahwa saya telah melakukan hal yang benar."

Editor :

Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar