Kamis, 02 Agustus 2012

Tentara NATO Nonton Olimpiade Sambil Angkat Senjata

KABUL, KOMPAS.com - Setelah 30 tahun peperangan, Olimpiade London adalah dunia impian bagi sebagian besar penduduk Afghanistan. Bukan hanya penduduk lokal, 130.000 pasukan yang dipimpin oleh NATO dari 50 negara menonton siaran televisi Olimpiade sembari memegang senjata.

Afghanistan memiliki enam atlet di Olimpiade. Empat dari mereka mewakili seni bela diri: tinju, taekwondo, dan judo. Satu dari antara yang lain adalah seorang pelari, perempuan, namun stasiun televisi pemerintah di negara Islam konservatif ini tidak menampilkan cabang olahraga yang diikuti oleh perempuan. Demikian menurut kepala bagian olahraga Nooragha Parwani kepada AFP.

Dalam kasus apapun, Olimpiade tidak mendominasi berita. Berita didominasi oleh peperangan melawan pemberontak Taliban.

Di pangkalan NATO di Kabul, Kamp Warehouse, para tentara bersantai di depan sebuah televisi di bar "Le Montmartre", dengan segelas minuman di tangan, dan senapan di kaki mereka. Ibukota yang dijaga ketat tersebut tampak tenang, namun kondisi ini dapat berubah dalam sekejap.

Pada 15 April, Kamp Warehouse dihujani tembakan bersama beberapa target lainnya ketika tiga pasukan bunuh diri Taliban meluncurkan serangkaian serangan terkoordinasi. Pertempuran selama tujuh belas jam tersebut menyebabkan 41 orang tewas, termasuk 36 penyerang.

"Kami benar-benar terbiasa selalu membawa senjata kami ke mana pun. Ini seperti ketika Anda kembali ke Perancis, Anda mungkin akan berpikir: 'Apakah saya sudah melupakan sesuatu?" kata Sersan Pierre, 25 tahun, ketika menonton Olimpiade minggu ini.

Olimpiade dapat menjadi "pelarian", menurut rekannya, Sersan Sebastien. "Tidak banyak yang dapat dilakukan di tempat ini, selain internet dan menelepon keluarga," katanya.

Berjarak beberapa meja, lima tentara yang baru saja datang dari pos terdepan di distrik Surobi dekat Kabul tengah menonton siaran pertandingan menunggang kuda di sebuah layar besar. "Sudah 15 hari sejak kami melihat televisi atau sebuah telepon," kata salah satu dari mereka.

Jauh di selatan negara ini, di provinsi Helmand, Angkatan Laut Amerika Serikat di Kamp Leatherneck juga memiliki kesempatan untuk menonton Olimpiade ketika tidak bertugas dalam perang yang telah berlangsung selama satu dekade dan telah menewaskan lebih dari 3.000 tentara NATO.

Letnan Scott Murdock mengatakan kepada AFP, "Karena ini adalah basis koalisi, banyak Marinir bekerja dengan anggota dari negara lain dan menikmati kompetisi persahabatan di antara pertandingan Olimpiade.

"Tentu saja semua orang memiliki olahraga dan atlet kegemarannya masing-masing, namun renang dan sepak bola nampaknya menjadi yang paling digemari."

KOntributor utama dari koalisi adalah Amerika Serikat, yang memiliki sekitar 90.000 tentara, Inggris dengan 9.500 tentara, Jerman dengan 4.900 tentara, Italia 3.800 tentara, dan Perancis 3.000 tentara.

Sejak invasi yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk menjatuhkan rezim Taliban pada tahun 2001, pasukan NATO di Afghanistan telah menonton Olimpiade Athena pada tahun 2004, Beijing tahun 2008, dan kini Olimpiade London.

Namun, NATO akan menarik mundur pasukannya pada tahun 2012. Jadi, pada Olimpiade tahun 2016 mendatang di Rio de Janeiro, penduduk Afghanistan akan menonton Olimpiade sendirian. Terpisah dari sebagian kecil tentara yang akan tinggal untuk pelatihan dan menjadi back-up dari perang panjang mereka.

Editor :

Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar